14 November 2012

Budaya Indonesia di Jepang


Budaya dan seni lokal semakin dikenal masyarakat Jepang melalui sejumlah acara dan festival yang turut dimeriahkan wakil-wakil Indonesia, bahkan mendapat tanggapan positif.

Tidak sedikit seniman dan wakil Indonesia bertandang ke negeri Sakura untuk memperkenalkan kebudayaan serta kreatifitas mereka, sekaligus meninggalkan kesan positif yang nantinya menjadi benang merah guna mempererat hubungan Indonesia dan Jepang melalui seni budaya, mulai dari musik, tarian, film, bahkan seni hiburan.


Oktober silam, sejumlah karya seniman Indonesia ditampilkan dalam festival dan acara Internasional di Jepang, yang tidak hanya dihadiri masayarakat lokal, namun juga mancanegara, seperti Tokyo International Film Festival (TIFF), World Police Concert, dan Worldwide Eisa Festival di Okinawa.

Dengan memfokuskan pada perfilman Indonesia, tahun ini TIFF menayangkan 7 film serta mengundang 3 sutradara terkenal, yakni Riri Riza, Garin Nugroho, dan Edwin dalam rangkaian “Indonesian Express”, 20 hingga 28 Oktober.

Riri Riza menyatakan, saat sesi tanya jawab, sejumlah orang yang hadir mengaku baru pertama kali menonton film Indonesia, dan berterima kasih karena mendapat banyak informasi dan pengetahuan mengenai Indonesia melalui karya-karya itu.

Sebelumnya 27 Oktober silam, “The Raid”, film laga garapan Gareth Huw Evans (produser film Merantau), ditayangkan di sejumlah bioskop di Jepang. Pada pemutaran pertama “The Raid” di Studio Kadokawa milik Kadokawa Pictures, tidak sedikit media dan kritikus yang datang menyaksikan.

Takeo Kadera, General Manager Kadokawa Pictures mengaku kaget serta kagum dengan banyaknya film Indonesia yang bermutu serta memiliki standar Internasional. Dia juga berencana membeli film-film Indonesia untuk diputar di layar lebar Jepang. Menurutnya, padatnya pengunjung saat pemutaran pertama memperlihatkan tingginya animo masyarakat Jepang, seperti dilansir media lokal.

Sementara, 3 November silam di Tokyo, digelar audisi akhir grup idola JKT48 generasi ke-2 yang juga ditayangkan secara langsung melalui Youtube dan menyedot sekitar 30 ribu pengunjung situs, sebagian besar berasal dari penggemar JKT48 di Indonesia dan Jepang. Hal ini menunjukkan, mulai timbulnya ketertarikan masyarakat Jepang terhadap seni hiburan Indonesia.

Tidak hanya seni hiburan yang mulai mencuri perhatian Jepang, lagu serta musik tradisional juga telah menjadi duta budaya Indonesia, melalui pertunjukkan yang ditampilkan Drum band Akademi Polisi Cendrawasih, dari Akademi Kepolisian Semarang dalam World Police Concert dan Umaku Shinka Eisa, kelompok tari Eisa, tari tradisional Okinawa asal Jakarta di Worldwide Eisa Festival.

Meski menampilkan pertunjukkan dengan cara berbeda, namun Drum band Akademi Polisi Cendrawasih dan Umaku Shinka Eisa memperkenalkan lagu-lagu tradisional Indonesia tidak hanya kepada masyarakat lokal, namun juga peserta mancanegara yang hadir di 2 festival itu. Beberapa lagu yang ditampilkan antara lain, Bengawan Solo yang juga sangat populer di Jepang, Manuk Dadali, Bungo Jeumpa, Kopi Dangdut, Yamko Rambe Yamko, Kutiding, dan Ondel-Ondel.

Umaku Eisa juga berhasil meraih penghargaan kategori grup favorit juri, karena dinilai telah melahirkan genre baru dalam tarian tradisional Eisa dengan menonjolkan ciri khas Indonesia.

Hingga sekarang, budaya dan seni Indonesia masih menjadi hal baru di Jepang, namun, melihat mulai munculnya minat masyarakat terhadap Indonesia saat ini, bukan mustahil suatu hari budaya tradisional akan diminati di Jepang. Hallojepang.com

0 comments:

Poskan Komentar

Populer